Tulisan ini saya dapatkan dari selebaran yang diberi saat suamiku membeli cat. Sepertinya tidak ada hubungan antara cat dengan isi dari tulisan ini. tapi walaupun demikian, saya coba membacanya. saat saya baca kata perkata, semakin saya baca saya jadi semakin sedih dan terkenang akan almarhum Bapakku. Betapa tidak berbaktinya saya sebagai seorang anak, karena tidak mampu mewujudkan keinginannya menunaikan ibadah haji hingga ia meninggal. betapa tidak perhatiannya saya, karena kurang menyempatkan waktu merawatnya di saat dia sakit dan semakin tua. entah apa yang bisa kulakukan untuk membalas semua jasa-jasanya. saya berharap semakin banyak orang yang membaca tulisan ini, sehingga tidak ada lagi anak yang berbicara apalagi berbuat kasar kepada oran tuanya. semoga kita semua menjadi anak-anak yang berbaikti kepada orang tua, sehingga kelak kita pun bisa punya anak yang soleh. amiin amiin ya rabbal alamin
Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu,
maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.
DI SAAT
DAKU TUA
Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu,
maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.
Di saat
daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku, di saat daku tidak lagi mengingat cara
mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.
Di saat
saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Di masa kecilmu, daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Di masa kecilmu, daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.
Di saat
saya membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku. Ingatlah di masa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?
Janganlah menyalahkanku. Ingatlah di masa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?
Di saat
saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku. Renungkan bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan di saat itu.
Janganlah menertawaiku. Renungkan bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan di saat itu.
Di saat
kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku. Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku. Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.
Di saat
daku melupakan topik pembicaraan kita,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.
Di saat
engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu di saat engkau mulai belajar tentang kehidupan.
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu di saat engkau mulai belajar tentang kehidupan.
Dulu
daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir
jalan hidupku, berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, Daku akan menerimanya
dengan senyuman penuh syukur, di dalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak
terhingga bagimu.
anonim